Tulisan tentang , , , , , , , ini telah dibaca 1,366 kali sejak 06/02/2010.

Diakui atau tidak – pun disadari atau tidak, menjadi warga negara Indonesia seharusnya merupakan keistimewaan terbesar yang kita miliki. Sebagai warga negara Indonesia, kita menerima warisan nusantara paling utama; multikulturalisme. Kita semua hidup bersama dengan berlandaskan warisan tersebut, perpaduan antara budaya kesukuan dan budaya keagamaan.

Budaya suku Madura dan agama Islam -misalnya, dapat menciptakan harmoni yang hidup di tengah-tengah pemilik identitasnya (Madura-Islam). Begitu juga dengan budaya suku Bali dan agama Hindu -misalnya, atau suku Papua dan agama Kristen -juga misalnya. Bahkan, harmoni itu juga terbentuk di tengah-tengah budaya Sasak, Dayak, dan Samin (yang lebih suka mengakui berbudaya Sikep) dengan kearifan lokalnya.

Itu tadi persentuhan budaya “internal”. “Eksternal”nya; ketika pemilik identitas Madura-Islam tinggal bersama pemilik identitas Tengger-Hindu di pegunungan Bromo, juga ketika pemerintahan desa-kecamatan-kabupaten di Blora menghargai dan membiarkan ajaran Samin terus dilestarikan. Bahkan sebenarnya, ketika Madura-Islam carok dengan Dayak beberapa tahun lalu pun merupakan persentuhan antar budaya, meski cenderung negatif.

Jadi, pada dasarnya, kita sebaiknya (untuk tidak memaksakan kata seharusnya) mengakui dan menyadari bahwa warga negara Indonesia adalah manusia yang hidup di tengah multikulturalisme. Oleh karena itu, segala bentuk perbedaan budaya yang kemudian muncul ketika bertemu dengan budaya lain sebaiknya ditoleransi dan diapresiasi.

Lebih luas lagi, multikulturalisme pun bukanlah hal yang aneh bagi manusia di manapun ia berada. Tidak ada suatu komunitas yang melulu hidup tanpa sedikitpun muncul persentuhan antar budaya; baik budaya kesukuan maupun budaya keagamaan. (03/02/10)

Dawam Multazam | SMJ Ushuluddin STAIN Ponorogo

STOP PRESS!

Tulisan ini semacam paid review yang Saya tulis untuk persyaratan mengikuti kegiatan Belajar Bersama yang diselenggarakan oleh Yayasan LKIS Yogyakarta (11-17 Pebruari 2010). Silakan dikomentari, dan harapannya, semoga bermanfaat.

Hem, tanggal 8-15 Pebruari tuh sebenernya masih UAS di STAIN Ponorogo. Izin ah, daripada tahun depan musti mengulang….

multikulturalisme (11) budaya dan agama di indonesia (2) multikulturalisme agama (2) 7 multikultural (1) budaya multikultural di indonesia (1) download bacaan bilal ramadhan (1) multikulturalisme agama di Indonesia (1)

Ingin berbagi? Silakan klik tombol di bawah ini :
  • Print
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Live
  • MySpace
  • StumbleUpon
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks


Random Posts

19 Comments to “Multikulturalisme Kita”

  1. riFFrizz | 06/02/2010 - 8:41 pm

    Bangganya jadi Orang Indonesia yang mempunyai beragam suku, kebudayaan, dan agama.

    [Reply]

  2. annosmile | 06/02/2010 - 10:18 pm

    semoga multikulturalisme di indonesia berjalan ke arah positif.
    walaupun berbeda ras, suku, kebudayaan, tetapi tetap satu bangsa..
    annosmile´s last blog ..Cemoro Lawang, Gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru My ComLuv Profile

    [Reply]

  3. Jidat | 07/02/2010 - 6:43 am

    Sukses yak nek jogja!

    [Reply]

  4. marsudiyanto | 07/02/2010 - 6:48 am

    Multi kultural bisa membanggakan, tapi sekaligus berpotensi menimbulkan perpecahan…

    [Reply]

  5. cah ndueso | 07/02/2010 - 4:36 pm

    mari kita jaga dan lestarikan budaya tradisional kita, karena banyak sekarang orang jowo sing ora njowo. berbeda2 tapi tetap njowotenan juga.
    cah ndueso´s last blog ..jan tenan wong iki NDEEESSSSO banget, tapi pikiran… My ComLuv Profile

    [Reply]

  6. bend | 07/02/2010 - 6:46 pm

    sepakat

    [Reply]

  7. azaxs | 07/02/2010 - 7:25 pm

    gitu aja kok repot….

    *tak pikir tulisan ini untuk memperingati 40 hari wafatnya gusdur

    [Reply]

  8. suryaden | 08/02/2010 - 5:04 pm

    piye carane, multi orgas*e.. iku yo

    [Reply]

  9. Andy MSE | 08/02/2010 - 7:42 pm

    perbedaan itu indah…
    secara otomatis, bilamana saling disadari adanya perbedaan itu, akan terjadi asimilasi sebagai bentuk budaya baru yang saling menghormati…
    Andy MSE´s last blog ..Pindah Proyek My ComLuv Profile

    [Reply]

    Andy MSE Reply:

    nek ra percoyo, baca ini: http://blog.biasasaja.com/2009/08/biasanya-perbedaan-itu-indah/
    Andy MSE´s last blog ..Menipu 50.000 Orang My ComLuv Profile

    [Reply]

  10. sawali tuhusetya | 10/02/2010 - 2:59 am

    dari sisi dan ranah mana pun multikulturalisme di negeri ini tak mungkin diabaikan, mas deno. upaya penyeragaman justru akan menumbuhkan situasi yang kurang menguntungkan bagi eksisteni bangsa.
    sawali tuhusetya´s last blog ..Agupena Jawa Tengah: Refleksi Menjelang Tahun Kedua My ComLuv Profile

    [Reply]

  11. ahmad rosidi aka eros | 15/02/2010 - 5:50 pm

    binneka tunggal ika
    perbedaan begitu indah. kalao sama lak malah bosen ya :D
    selamat jalan mas, sukses dengan aacaranya
    ahmad rosidi aka eros´s last blog ..Download Game Java Gratis My ComLuv Profile

    [Reply]

  12. dhedhecuit | 27/02/2010 - 3:47 pm

    yups sepuluh ech setujuh :P

    [Reply]

  13. hanif IM | 08/03/2010 - 7:22 pm

    beragam, itu sudah sejak dulu, saling menghargai saja intinya.

    [Reply]

  14. Choiri Setyawan | 28/03/2010 - 6:37 am

    memang harus bangga jadi orang indonesia…

    [Reply]

  15. rahmat addy | 01/04/2010 - 1:11 am

    Kontroversi membentuk sebuah sensasi. Sensasi menjadikan nilai lebih dan daya tarik untuk di ikuti atau di nikmati. adapun itu sebagai penghargaan antar penggiat budaya.
    Sependapat dengan pak Sawali.

    [Reply]

  16. hanif IM | 06/04/2010 - 9:23 pm

    wah, telat saya. beragam itu menjadikan kaya. baik secara materi maupun non materi. Seperti sebuah harta perut bumi, tidak semata tuhan menciptakan hanya emas. tapi juga ada perak, berlian dan pertama, dan lainnya lagi.
    hanif IM´s last blog ..Konsep dan Design Kantor? Telur? My ComLuv Profile

    [Reply]

  17. aRai | 26/06/2010 - 12:39 am

    suwi ga update pisan tibakno … hehe

    [Reply]

  18. alumni VI-c 2007 | 26/06/2010 - 9:42 pm

    Tulisane wis koyo tulisan-tulisan nang KOMPAS wae, pak lek…

    [Reply]

Comment Here

CommentLuv Enabled