Hari ini, seperti biasa, saya membaca Jawa Pos. Yang tidak biasa, saya membeli koran nasional produksi Jawa Timur ini, seperti pada hari Rabu kemarin ketika tulisan saya dimuat di rubrik Orasi Mahasiswa. Lho, tidak biasa? Iya, karena biasanya saya membaca Jawa Pos di kantor -warung kampung, Pancing Pangestu 2 Ponorogo-.
Ada yang aneh, karena saya menemukan kata Reyog dan Reog dalam koran ini, hanya berbeda berita dan halamannya.
Reyog, ada dalam berita tentang wafatnya Kang Heru Subeno, salah satu tokoh warok Ponorogo, Rabu malam. Yang Reog, ada dalam berita tentang kunjungan wisatawan asing yang disuguh penampilan tari Re(y)og di Surabaya. Yang Reyog, ada dalam suplemen Radar Madiun. Tepatnya, dalam sub-suplemen Radar Ponorogo. Sedangkan yang Reog, ada dalam suplemen Metropolis.

Perbedaan dalam penggunaan kata Reyog dan Reog memang sudah sangat akut. Padahal, konon, yang benar adalah kata Reyog. Tapi, coba saja cari kata kunci Reyog di Google, pasti hasilnya tak sebanyak dengan kata kunci Reog.
Konon (lagi), perbedaan kedua kata ini bermula ketika Markum Singodimedjo -mantan bupati Ponorogo yang sekarang anggota DPR RI dan kemaruk nyaleg lagi- mengesahkan kata Reog sebagai istilah resmi untuk tari kesenian khas Ponorogo ini. Pengesahan itu berdasarkan rekomendasi tim peneliti dari Pemkab Ponorogo. Meskipun ditolak oleh sebagian tokoh warok Ponorogo, penggunaan kata Reog tetap digunakan secara resmi. Bahkan, dijadikan slogan Ponorogo. REOG, Resik Endah Omber Girang-gemirang.
Entah yang mana yang lebih tepat. Saya bukan ahli bahasa. Juga bukan ahli sejarah. Saya hanya pembaca Jawa Pos, yang nyaris tidak pernah membaca rubrik Ekonomi Bisnisnya, karena memang tidak paham. Saya hanya pembaca Jawa Pos, yang akhir-akhir ini sempat jenuh dengan banyak kerancuan di sana. Saya hanya pembaca Jawa Pos, yang tetap akan senang membacanya, meski ada yang ngomong, Jawa Pos itu bacaannya tukang becak.
Tapi saya heran, kok bisa ya, ada dua kata Reog dan Reyog dalam satu koran, satu edisi pula.
<p>koran jawa pos hari ini (247) berita koran jawa pos hari ini (76) sejarah tari reog ponorogo (51) radar madiun (47) berita jawa pos hari ini (46) radar ponorogo (37) reog ponorogo (25) gambar reog ponorogo (23) gambar tari reog ponorogo (22) koran ponorogo pos (21) jawa pos hari ini (19) reok ponorogo (16) radar madiun hari ini (16) tari reog ponorogo (15) jawa pos (12) reog (11) gambar reok ponorogo (11) jawa pos radar madiun (10) JAWA POS RADAR PONOROGO (8) koran jawa pos radar madiun (8)</p>
Berikut kopian beritanya, saya ambil dari www.jawapos.com dan www.radarmadiun.co.id
[ Jum'at, 06 Maret 2009 ]
Satu Lagi, Tokoh Warok Tiada
PONOROGO – Berita duka menyelimuti Kota Reyog. Satu lagi, tokoh warok Ponorogo, Kang Heru Subeno, meninggal dunia Rabu (4/3) pukul 21.00. Sosok yang dikenal sebagai seniman sejati itu dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tonatan, kemarin (5/3).Prosesi pemakaman berlangsung cukup hikmat. Nuansa Ponoragan sangat kental mengiringi keberangkatan jenazah sepanjang perjalanan dari rumah duka di Kelurahan Totanatan, Kecamatan Ponorogo, menuju peristirahatan terakhirnya. Keluarga besar tokoh yang semasa hidupnya dicurahkan untuk perkembangan seni Reyog tak kuasa meneteskan air mata. Tak terkecuali para seniman reyog, mereka mengaku kehilangan orang yang berjasa demi kemajuan seni Reyog.
Budi Satrijo, sekretaris Yayasan Reyog Ponorogo yang dikenal dekat dengan almarhum Heru Subeno, mengatakan warok kelahiran 23 Oktober 1958 itu sejak kecil sangat suka dengan reyog. Perjuangan untuk membesarkan seni reyog dilalui dengan jerih payah. ”Kami membanggakan beliau yang tidak pernah membeda-bedakan orang lain,” ungkapnya di sela-sela mengantarkan jenazah ke pemakaman.
Menurut dia, kepedulian dan dedikasi Kang Heru Subeno pada pengembangan kesenian, yang sekarang menjadi maskot Ponorogo dan Indonesia, cukup tinggi. Bahkan, almarhum rela semasa hidupnya untuk terus bergelut di kesenian reyog. ”Tidak ada duanya totalitas beliau dalam mencurahkan kemajuan reyog yang sudah go international ini,” terangnya.
Dari kreativitas sebagai seniman reyog, Kang Heru Subeno telah melahirkan karya monumental. Yakni tari warok kolor sakti dalam pentas seni tari reyog dan pengembangan dialek khas Ponoragan. ”Kang Heru bukan hanya milik orang Ponorogo. Tapi seluruh seniman dan masyarakat yang cinta terhadap reyog,” paparnya.(dip/sad)
[ Jum'at, 06 Maret 2009 ]
Turis dari Asia Kagumi Reog Ponorogo
SURABAYA – Atraksi reog Ponorogo begitu terkenal. Sejumlah warga mancanegara pun pernah menyaksikan kesenian asli Ponorogo tersebut. Namun, itu tak terjadi pada sekitar 60 turis yang melihat tari tersebut di Balai Pemuda kemarin pagi (5/3). Mereka mengaku baru pertama melihat reog. Para turis itu berasal dari Ho Chi Minh City (Vietnam), Singapura, Bangkok (Thailand), Kuala Lumpur (Malaysia), Filipina, dan Hongkong. Mereka adalah perwakilan media dan travel agent dari negara masing-masing. Lantaran baru kali pertama melihat reog, mereka langsung kepincut. Tepuk tangan dan gelengan kekaguman sesekali terlihat. Beberapa di antara turis tersebut sibuk mengabadikan aksi para pemain itu dengan kamera.Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ( Disbudparta) Surabaya dan Garuda Indonesia mengundang turis tersebut. Mereka adalah klien Garuda Indonesia. Acara itu juga bagian program Garuda South East Appreciation yang bertujuan mengapresiasi para klien Garuda. ”Kami pilih perwakilan dari media dan travel karena merekalah yang nanti bisa mempromosikan pariwisata kita kepada wisatawan dari negara mereka,” ujar Purnomo Hadi, general manager Garuda Indonesia di Vietnam.
Seorang undangan, Kitty, mengaku sangat tertarik dengan reog dari Gembong Kyai Bulak itu. Dia sebenarnya tak begitu paham makna tari tersebut. Namun, wanita asal Vietnam itu begitu terkesan dengan penampilan gadis-gadis penari reog tersebut. Nah, agar tamu lebih mengerti makna cerita, disbudparta menerjemahkan setiap adegan dalam bahasa Inggris. Dalam acara kemarin, Tran Thi Pay Phoang dari Vietnam menaiki kepala singobarong, maskot reog. Reog Ponorogo adalah salah satu performance yang difasilitasi Pemkot Surabaya. ”Kami ingin Surabaya bisa menjadi jendela budaya seluruh wilayah Indonesia,” ujar Wiwik Widyawati, kepala Dibudparta Surabaya. (ika/dos)

pertamax mungkin….
semoga budaya indonesia tetap lestari dan makin maju…
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:38
@arikaka.com, amiin….
[Reply]
semoga budaya kita gak di embat sama negara yang miskin budaya lagi
thevemo’s last writing..Kualitas dan Kuantitas sebuah Blog
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:39
@thevemo,
negara miskin budaya….sekali punya budaya ya budaya ngembat itu….
[Reply]
Editorya beda kali kang
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:40
@Alief, ya iyalah
[Reply]
ya itu sudah lama mnjadi polemik, tapi buat saya yang penting budaya kita harus kita lestarikan bersama, jangan sampai diambil orang seperti kemarin ;)
arifudin’s last writing..3gp Free download
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:41
@arifudin, betul itu. yang lebih penting adalah menjaganya.
[Reply]
jayalah terus royog ponorogo..
wahyoe’s last writing..Eror has occured
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:42
@wahyoe,
[Reply]
mas deno aku komentari gambar nya ajah yah
wow cakep juga tuh cewek ;)
mau nih jadi kepala barongnya :)
*huahahaha*
galuharya’s last writing..ini bukan indonesia
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:42
@galuharya, pilih jadi kepala barongnya apa sekalian jadi celananya?
[Reply]
Kalau saya lebih nyaman pakai kata reog. Soalnya reyog koq dekat dengan kata reyot :)
Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009’s last writing..Awas Keyword Anda!
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:44
@Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009,
padahal yang ada di Ponorogo justru lebih nyaman pakai Reyog
[Reply]
biar namanya beda, tapi tujuannya tetap sama,, memajukan budaya Indonesia…
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:45
@dery, sip. yang penting adalah persatuan bangsa kita.
[Reply]
Wah blognya keren,kasih ilmu donk buat adik-adiknya. Kunjung balik ya mas ! Thank U
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:46
@Multimedia SMK Negeri 8 Semarang, iya dek
[Reply]
kalau reyog itu ilat jowo koyoke mas
hehe
rayearth2601’s last writing..APN GPRS XL untuk modem di PC
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:50
@rayearth2601,
tapi bener juga deh….
[Reply]
hehe..knp y, cb tanyakan pd penerbitnya aja..sp tahu bs ngasih penjelasan dan konfirmasi yg akurat…mmm…
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:52
@sarah, ditulis di blog saja mbak, untuk berbagi persepsi.
[Reply]
wah… baru tau saya itu
BlogSigit’s last writing..Gratisan Dari Asian Brain
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:54
@BlogSigit, sip deh….
[Reply]
wah saya kok jadi bingung dengan kata yg mn yg bener :roll:
dari pengucapan mungkin sama, klo artinya jadi beda kali ya mas apa msh sama
gdenarayana’s last writing..Video Kekerasan Kembali Marak
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 16th, 2009 at 11:58
@gdenarayana, beda tulisan sama pengucapan.
[Reply]
Wah, saya belum mempelajari lebih dalam budaya Jawa Timur ini…
Tapi sepengetahuan saya, dalam Bahasa Melayu ejaan van Ophuijsen (1901) dan juga ejaan Melayu yang digunaan sebelum 1901, huruf “e” dan “o” dihubungkan dengan huruf “j” (ejaan van Ophuijsen, kalau sekarang tentu jadinya “y”) dan bisa ditulis “REJOG” dalam ejaan van Ophuijsen tersebut. Mirip dengan kata “SIANG” yang dituliskan “SIJANG” (lihat koran Minahasa tahun 1880an, TJAHAJA SIJANG) atau “BEJO” (beo).
Setelah beberapa kali mengalami transformasi ejaan, mulai ejaan Soewandi atau ejaan Republik (1947) hingga EYD (mulai 1972) yang kita gunakan sekarang, kata “REJOG” bisa jadi hanya mengalami perubahan huruf saja, menjadi “REYOG”; mungkin karena belum begitu familiar dalam Bahasa Indonesia yang digunakan secara umum di seluruk wilayah RI.
IMHO.
CMIIW.
[Reply]
Beda pengucapan dan penulisan…namun maksudnya memang kesitu…kesenian tradisional itu bukan?
pakde’s last writing..20 menit kah?
[Reply]
kalo aku sih taunya itu artinya sama aja.
[Reply]
Yg bener berarti yang hasil pencarian googlenya paling banyak, mungkin gitu.
Salam
Kipram.com
[Reply]
coba tanya budayawan..
[Reply]
hanya berbeda 1 fonem (/y/), tapi agaknya ini perlu diluruskan, mas deno. dalam ksmus besar bahasa indonesia, kalau ada dua kata yang sama, tapi berbeda ejaannya, biasanya diadopsi kedua-duanya. jadi, reog=reyog, mungkin dimaksudkan agar kedua kata ini sama2 sah digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
[Reply]
Kalau REOG kmrn menuntut untuk istilah Resik Endah Omber Girang-Gumirang
Nah kl skg REYOG…
mbuh lah reog po reyog yang temping masih Ponorogo…bukan Ganyang Malingsia lage
ardhietechno’s last writing..Minuman Ponari
[Reply]
Hi Friend.. Interesting post.. Nice cool blog.. Keep up the good work.. Do visit my blog and post your comments.. Take care mate.. Cheers!!!
[Reply]
Lama banget ndak lihat pertunjukkan reog nih…
Nopy’s last writing..Persepsi diri itu gimana ya?
[Reply]
sek sek sek.. yg bener yg mana??? jadi bingung..
maklum rada fastreading.. inget.. rada fast reading.. sebagian dibaca kok.. wekekekkek :p
kacrut’s last writing..penghipnotis salah orang..
[Reply]
yang penting g’ di curi lagi
zoel’s last writing..WordPress dibanjiri foto bugil dan video mesum
[Reply]
mungkin bisa dirembug lagilah untuk klarifikasi dan standarisasi kata, seperti juga reyot, meliyuk, lumpiya, sampeyan… tapi kalo merujuk pada Gunawan Rudy bisa jadi sudah menjadi reog…
[Reply]
Wah klo gini ini yang jadi repot. Ada yang bilang Reyog ada yang bilang Reog, yang mana ya yang bener ?
Ardian’s last writing..Beli Kaos Facebook di Internet
[Reply]
abis enakan kata reog sih :P hehehe.. tapi kalo arti nya sama bukan masalah kan jadi nya? :) mungkin maksud nya reyog kali yah.. tapi pengucapan nya aja pake reog.. heheh
ridhoyp’s last writing..World of Goo Game Berbentuk Bola Lucu yang mengasah kepintaran mu
[Reply]
klau dalam redaksi biasanya yang diberikan tugas untuk mengedit adalah editor bahasa. Lalu soal penggunaan kata reyog dan reog dulu juga pernah saya perkarakan saat menggarap majalah mahasiswa. doh puyeng :(
tapi gak boleh patah semangat. kita harus tetap menulis. sukses yak!!
[Reply]
mau reyog ataupun reog, yang penting mengacu pada satu kebudayaan kebanggaan warga ponorogo, indonesia bukan malingsial . iyo tho mas?
salam kenal nggeh
kaudanaku’s last writing..ckckckck………..
[Reply]
menurut saya Reog saja, kalau Reyog nanti diklaim milik negara tetangga.
munawar am’s last writing..Mengamati Google SERP Kontestan SEO Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
[Reply]
aku gelem maen reyog nek ono cewek’e sing oyo neng foto kuwi…
posisinya passs banget…
ciwir’s last writing..Perpustakaan Warga Desa
[Reply]
kalo diriku suka reog dari pada reyog
suwung’s last writing..BLOG yang Gagal
[Reply]
kalo reyot beda lagi ya ? og itu rumah…. hehehehe
Supermance’s last writing..Dapet Rezeki Senilai £750,000,00 GBP
[Reply]
kayaknya yang bener reog deh…
joe’s last writing..Vina Panduwinata, Burung Camar yang Centil
[Reply]
woooooooooo….
thx yah, ini penting u/ penelitian en tugas gw… thx bgt yahh ce…just it my comment, I hope that’s have benefit and make yu to be smile!!
[Reply]
@Yuna, glad to hear it! :)
[Reply]
Seperti kata Jogjakarta dan Yogyakarta, yang bener yang mana coba? Sekarang yang sering dipake adalah Jogja dengan Slogan nya “Jogja Never Ending Asia” di stasiun pun ditulis Jogjakarta, tapi kalau disebut Ngajogjokarto Hadiningrat, nggak pantes banget, pantesan juga “Ngayogyokarto Hadiningrat. ahh mbuh lah, heheee :mrgreen:
Reog ataupun Reyog, yang jelas itu kebudayaan dan kekayaan Indonesia yang harus di uri-uri, yang harus jadi kebangga’an kita bersama.
Salam Reyog
ãñÐrî ñâwáwï’s last writing..Anak-anak’ku sedang Ujian Nasional
[Reply]
@ãñÐrî ñâwáwï, jadi, persoalan bahasa tak masalah, yang penting pada unsur kesenian yang harus dilestarikan. :) Hok Ya!
[Reply]
reyog saja lahhh
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 28th, 2009 at 13:26
@jidat,
[Reply]
selamat malam semuanya,,,reog reyog aslinya sama,,yang penting kita saling menjaganya,,salam kompak dari putu warock 1922.hidup kotaku hidup ponorogo
.-= impron´s last undefined ..If you register your site for free at =-.
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
July 28th, 2009 at 13:27
@impron, oke kang. salam kenal dan salam kompak juga.
[Reply]
pokoke ponorogo is the best
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
August 7th, 2009 at 07:58
@dlondonge warok, ponorogo is my country.
[Reply]
ADA cara untuk menggendong bayi. Salah posisi atau menggunakan gendongan yang tak tepat bisa berdampak pada postur dan tumbuh kembang bayi di kemudian hari.
Menggendong bayi baru lahir, misalnya, dianjurkan bayi diposisikan terbaring di lengan. Kepala dan leher berada di lipatan siku, sedangkan tangan lain menahan punggung hingga pantat bayi. “Jangan terlalu erat mendekap saat menggendong karena bisa membuat bayi tidak nyaman,” kata dr Monique Noorvalily SpA, dokter spesialis anak RSU Haji Surabaya.
Bila perlu, orang tua bisa memakai gendongan. Toh, saat ini banyak jenis gendongan untuk mempermudah orang tua menggendong anaknya. Sebagian orang masih suka gendong dengan seledang. Yang lain memilih gendongan praktis yang kian banyak ditawarkan. “Tergantung kenyamanan dan kemudahan. Jika penggendong lebih nyaman dan mudah menggunakan selendang, ya tak masalah,” ujar Monique.
Jika menggunakan gendongan praktis, dokter alumnus FK Unair itu meminta orang tua untuk memperhatikan keamanannya. Jangan sampai ukuran lebar gendongan lebih kecil dari pantat atau tubuh yang digendong. Sesuaikan dengan ukuran gendongan dengan usia dan tubuh anak. “Kalau tidak, bayi yang digendong bisa jatuh,” jelasnya.
Dia mengingatkan untuk memastikan gendongan sudah terikat erat. Sebab, ada kalanya penggendong tergesa-gesa. “Pastikan dua atau tiga kali sambil membenarkan posisi bayi yang digendong agar nyaman,” jelasnya.
Ada pula gendongan praktis yang memosisikan bayi yang digendong seperti didekap di dada. Monique menyarankan, gendongan jenis ini tak dipakai pada bayi usia 2-3 bulan. “Gendongan jenis itu dipakai untuk bayi yang sudah mau berjalan, usia 9-12 bulan,” paparnya.
Pada usia 2-3 bulan, kata Monique, leher bayi belum kuat menopang kepala. Jika dipaksakan, tidak baik untuk si bayi. Leher bayi bisa cedera bila penggendong tak menopangnya dengan tangan
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
August 10th, 2009 at 20:27
@kodrat kurniawan, terima kasih informasinya.
[Reply]
semoga reyog terus berkembang sampai generasi berikutnya dan tahan lama
[Reply]
denologis yang biasasaja Reply:
August 11th, 2009 at 09:23
@kodrat kurniawan, amiin….
[Reply]
POKOKE maju terus REOG… akupun melestarikan nya di cilegon banten
[Reply]
Sebagai orang ponorogo dirantau
saya ikut urun rembug dikit :
Yang bener REYOG apa REOG ??
Kalau dulu sebelum huruf latin
ada tentunya pakai huruf jawa.
Dan untuk penulisannya lebih pas
kalau pakai huruf ” YO ” bukan
huruf “HO”. penulisan huruf HO
bisa dibaca “Ho” misal “DAHAR”
bisa dibaca “O” misal Hono tamu
Sehingga penulisan yang bener
kira2 ” REYOG ” bukan “REHOG”
cuma setelah dibakukan dalam
bahasa indonesia seperti apa
kata SURYADEN.
[Reply]
Yang Pasti,Kebudayaan Seni ReOg/ReYog Dari Kota PonoRoGo Ga’ ada Matinya my Friends. . . .
Salam BuwaT SeduLUr KaBeh ‘n DloNdhOng’e WonG PonoRoGo.
[Reply]
jadi kangen sama reog ponorogo. I miss you
[Reply]
apaun namanya, saya tetap cinta seni reog. Maju terus PONOROGOKU.
[Reply]
joyo bumi ponorogo….tanh pertiwiku….
[Reply]